Tidak ada yang lebih sia-sia melebihi bertahan dalam cinta yang egois. Ketika aku memilih melabuhkan hatiku pada dermaga itu, aku berfikir akan siap menerima segala yang memang harus kuterima. Aku tidak akan ragu dipersimpangan pun berdiri dengan gusar. Tetapi ternyata yang aku angankan adalah masa yang belum terlewatkan. Aku lupa bahwa aku adalah manusia biasa yang tidak tahu ada apa didepan sana. Aku terlalu yakin bahwa jalanku akan lurus tanpa kelokan. Bahkan hidup manusia yang sudah diatur oleh-Nya saja penuh batu dan tak jarang terjal, bagaimana aku seyakin ini bahkan sebelum aku berada ditengah jalan? Sungguh aku tidak tahu apa yang kufikirkan kala itu. Entah karena cintaku atau memang kekuatan yang ada pada sikapnya. Hingga tibalah aku pada keraguan. Keraguan yang sangat melelahkan. Aku sudah bertahan diatas duri-duri kecil meski tak jarang aku terluka karenanya. Tetapi semakin lama aku bertahan semakin tinggi duri-duri itu pun semakin tajam runcingnya. Aku lelah dengan luka tajam ini. Aku berfikir bahwa akan ada sesuatu didepan sana. Sesuatu yang merupakan tujuanku. Tetapi jalan ini begitu curam hingga aku bersangsi apakah didepan sana memang benar tujuanku, bukankah tidak salah aku berjaga sebelum terlalu dalam terluka? Aku hanya lelah dengan seringnya luka yang dibuatnya. Lelah dengan pertahananku sejauh ini, tanpa sesuatu yang baik terjadi. Semuanya berjalan normal sebagaimana mulanya. Lalu apa beruntungnya aku berjalan sejauh ini dengan berbagai luka sana sini? Aku sangat ingin berbalik lalu berlari pulang. Aku pun sangat ingin duduk beristirahat sebentar saja, setidaknya hingga luka ini sembuh. Tetapi bayang-bayang dirinya membuat kakiku kelu untuk sekedar menoleh kelain arah. Semuanya semakin sulit, semuanya semakin rumit. Aku lelah, terlampau lelah. Tetapi hatiku tidak pernah mau mengalah. Lantas bagaimana luka-luka bebatku ini akhirnya? Ketika aku ingin yakin melangkah kembali, luka yang sama sudah lebih dulu menampakkan diri, bahkan lebih parah dengan banyak darah. Tolong katakan padaku darimana aku harus mendapatkan keberanian melawan kesemuanya itu nantinya? Tunjukkan padaku darimana aku harus mendapatkan keyakinan bahwa akan ada dia disana menyambutku setelah mati-matian aku bertahan. Tolong katakan padaku bagaimana seharusnya aku melewati sesak ini. Aku bertahan terluka, aku menyerah tak bisa. Sekarang, aku hanya berharap ada setitik saja air yang mampu melunakkan hatinya. Menepis segala sikap batu yang dia pertahankan. Menghancurkan segala ego yang melekat kuat dalam dirinya. Aku berharap. Sungguh aku berharap
Kemarin, peluhku adalah tentang meyakinkan diriku bahwa akan ada bahagia setelah hati ini kubuka. Aku berusaha dengan sekuat tenaga untuk percaya bahwa sosokmu tidaklah mengecewakan lagi, aku berusaha menerima apa yang sebenarnya sangat aku benci, dan berusaha bersabar atas segala egois yang masih kamu miliki. Namun kini, peluhku adalah tentang menahan segala rasa agar jangan sampai bermetamorfosis sempurna. Susah payah aku meyakinkan diriku, dan susah payah dirimu menjatuhkan berdirinya kakiku. Ketika semangat aku membukakan pintu menerimamu, pun semangatnya dirimu menggores luka transparan yang hebatnya baru kusadari sekarang. Jangan pernah bertanya bagaimana rasanya. Tidak ada yang akan baik-baik saja dengan hati yang patah. Segala ucapan yang pernah kamu lontarkan bagai balon yang terbang setelah penuh terisi angin. Lalu dengan bodohnya aku tetap berharap bahwa suatu saat balon-balon yang beterbangan belum meletus oleh panasnya mentari. Tolonglah, tolong berjalanlah pada lintasanmu...
Komentar
Posting Komentar