Langsung ke konten utama

Really I Hope

Tidak ada yang lebih sia-sia melebihi bertahan dalam cinta yang egois. Ketika aku memilih melabuhkan hatiku pada dermaga itu, aku berfikir akan siap menerima segala yang memang harus kuterima. Aku tidak akan ragu dipersimpangan pun berdiri dengan gusar. Tetapi ternyata yang aku angankan adalah masa yang belum terlewatkan. Aku lupa bahwa aku adalah manusia biasa yang tidak tahu ada apa didepan sana. Aku terlalu yakin bahwa jalanku akan lurus tanpa kelokan. Bahkan hidup manusia yang sudah diatur oleh-Nya saja penuh batu dan tak jarang terjal, bagaimana aku seyakin ini bahkan sebelum aku berada ditengah jalan? Sungguh aku tidak tahu apa yang kufikirkan kala itu. Entah karena cintaku atau memang kekuatan yang ada pada sikapnya. Hingga tibalah aku pada keraguan. Keraguan yang sangat melelahkan. Aku sudah bertahan diatas duri-duri kecil meski tak jarang aku terluka karenanya. Tetapi semakin lama aku bertahan semakin tinggi duri-duri itu pun semakin tajam runcingnya. Aku lelah dengan luka tajam ini. Aku berfikir bahwa akan ada sesuatu didepan sana. Sesuatu yang merupakan tujuanku. Tetapi jalan ini begitu curam hingga aku bersangsi apakah didepan sana memang benar tujuanku, bukankah tidak salah aku berjaga sebelum terlalu dalam terluka? Aku hanya lelah dengan seringnya luka yang dibuatnya. Lelah dengan pertahananku sejauh ini, tanpa sesuatu yang baik terjadi. Semuanya berjalan normal sebagaimana mulanya. Lalu apa beruntungnya aku berjalan sejauh ini dengan berbagai luka sana sini? Aku sangat ingin berbalik lalu berlari pulang. Aku pun sangat ingin duduk beristirahat sebentar saja, setidaknya hingga luka ini sembuh. Tetapi bayang-bayang dirinya membuat kakiku kelu untuk sekedar menoleh kelain arah. Semuanya semakin sulit, semuanya semakin rumit. Aku lelah, terlampau lelah. Tetapi hatiku tidak pernah mau mengalah. Lantas bagaimana luka-luka bebatku ini akhirnya? Ketika aku ingin yakin melangkah kembali, luka yang sama sudah lebih dulu menampakkan diri, bahkan lebih parah dengan banyak darah. Tolong katakan padaku darimana aku harus mendapatkan keberanian melawan kesemuanya itu nantinya? Tunjukkan padaku darimana aku harus mendapatkan keyakinan bahwa akan ada dia disana menyambutku setelah mati-matian aku bertahan. Tolong katakan padaku bagaimana seharusnya aku melewati sesak ini. Aku bertahan terluka, aku menyerah tak bisa. Sekarang, aku hanya berharap ada setitik saja air yang mampu melunakkan hatinya. Menepis segala sikap batu yang dia pertahankan. Menghancurkan segala ego yang melekat kuat dalam dirinya. Aku berharap. Sungguh aku berharap

Komentar

Postingan populer dari blog ini

INI UNTUKMU AYAH

Assalamu’alaikum Hai, salam kenal aku Salsa. Tulisan ini dibuat pada hari Selasa, 29 Juni 2021 tepatnya pukul 00.37 dini hari. Aku ingin sedikit bercerita tentang sosok hero terhebat yang pastinya sudah membuatku jatuh cinta sejak pertama kali indera penglihatanku menyapa alam. Mungkin dulu dialah sosok yang pertama kali tersenyum haru, bangga dan bahagia menyambut tangisanku yang nakal. Kalian tahu? Mungkin dulu Salsa kecil memanggil-manggil kedua malaikat yang akan selalu melindungi dan menyayanginya selama dia hidup, berupa tangisan yang memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya. Mengikarkan janji bahwa Salsa akan selalu menyayangi kedua malaikatnya selama dia pun masih hidup. Mungkin dulu sosok tangan kekar penuh keringat yang selalu menggendong dengan bangga putri kecilnya, lalu malaikat bermata teduh dan bermandikan peluh mencium lembut seraya berbisik “selamat dating nak, ini keluargamu, tempatmu pulang. Ayah dan Ibu akan selalu menjagamu”. Mereka selalu memberikan kasih sa...

Untuk Pejuang Tenang

Layaknya karang yang selalu diterpa ombak. Dari ombak kecil bahkan badai hingga amukan laut yang semula tenang. Seperti itulah perumpamaan raga manusia. Dia bisa rapuh, dia bisa hancur, dia bisa kehilangan asanya. Ketika seluruh dunia berlomba-lomba menjadi yang terkuat untuk menyakitinya. Manusia bukan karang yang meskipun dia sudah hancur tetapi tetap mampu menjadi karang yang sama setelahnya. Tidak apa-apa menyerah sebentar, tidak apa-apa ingin berhenti sebentar, manusiawi. Manusia punya rasa lelah yang amat sangat hingga mampu memporak porandakan tujuan hidupya. Mampu melupakan penciptanya dan mampu merajut fikiran bahwa mati adalah yang terbaik daripada hidupnya. Tertekan, tersiksa, terhimpit didalam batin lebih menyakitkan daripada sakit fisik yang mampu menghilangkan kesadaran manusia. Karena batin yang terlalu lelah disabit parang, bukan hanya mampu menghilangkan kedasaran, tetapi juga mampu menghilangkan nyawa. Bahkan oleh orang-orang yang ternyata adalah orang yang disayangi,...