Langsung ke konten utama

TERIMA KASIH AYAH

Ayah. Aku mengawali kalimat dengan topic yang aku bahagia ketiku menyebutnya tetapi sakit ketika menjabarkannya. Aku minta maaf ayah sudah meletakkan luka dalam gelar hebatmu. Aku minta maaf telah mengguyur air mata pada nama besarmu. Aku minta maaf ayah. Putrimu ini adalah seorang pengharap yah. Ya, sebelum ini putrimu sangat berharap besar kepadamu. Tentang keindahan kasih, ketulusan rasa dan kekuatan ikatan. Tetapi ternyata kau baik sekali ayah. Kau mengingatkanku kepada Allah, Tuhanku. Bahwa Allah tidak suka hambanya berharap kepada selain-Nya. Maka terima kasih ayah, engkau sudah menunjukkan hal besar yang aku lupakan. Kau tetaplah ayahku, doa yang setiap saat melangit agar ragamu selalu dalam keadaan baik-baik saja. Meski dengan menyebutmu lukaku semakin merah berdarah, tetapi aku mencintaimu. Aku tetap mencintaimu. Jikapun ceritanya bukan seperti anggapanku selama ini, aku ikhlas ayah. Sekali lagi, kau mengajarkan keikhlasan yang begitu besar didalam jiwa putrimu ini. Kau menitipkan kedewasaan agar aku mampu berdiri kokoh diatas kerasnya kehidupan bagi sosok putri kecil sepertiku. Aku sama sekali tidak berfikir yang buruk atas kesalahan atau kesengajaan yang melukaiku. Aku hanya sedikit menangisi harapku yang tidak sebaik anganku. Tetapi tenanglah ayah, putrimu bias melewati segala rintangan seberapaun besar dan banyaknya. Putrimu tidak akan merusuhi hal yang kau benci ayah. Sekali lagi terima kasih. Terima kasih sudah menjadi alasan Tuhan melahirkanku ke dunia dan bertemu dengan orang-orang baik. Sehat-sehat ya ayah. Bahagia selalu;)

Komentar