Langsung ke konten utama

Seperti pelangimu

Hujan malam dan pelangi, setidaknya begitulah aku menyebutnya. Dia kadang seperti pelangi, berwarna warni, indah dengan ciri khasnya sendiri yang tidak dimiliki oleh lainnya. Pelangi, yang menyebarkan warna warni untuk orang" di sekelilingnya. Pelangi yang bisa mengubah air mata menjadi tawa, pelangi yang bisa mengubah muka masam menjadi ceria, pelangi yang bisa mengubah mendung menjadi awan putih. Tapi kadang dia seperti hujan malam, begitu dingin dan menusuk. Dia seakan lupa bahwa sebelumnya dia adalah pelangi. Dia seakan lupa bahwa sebelumnya dia adalah warna warni, indah dan selalu berseri. Hujan malam, yang bisa menyebabkan demam, yang bisa membuat menggigil kedinginan, yang bisa membuat kecewa berkepanjangan. Ya, kadang aku kecewa, kenapa setelah pelangi harus ada hujan malam, mungkin jawabannya adalah karena pelangi terjadi sebelum malam. Memang tidaklah salah, karena disini akulah yang salah, telah terlalu berharap agar malam setelah datang pelangi tak pernah datang hujan yang pada faktanya tidak selamanya musim kemarau

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Move Up Beeee

Sudah tidak seharusnya ada benci diantara cerita yang pernah terkisah. Kita bukan lagi bocah 7 tahun yang membenci temannya ketika mainannya direbut, atau membenci temannya ketika teman mainnya direbut. Kita sudah setengah jalan melewati bebatuan yang tersusun bernama kehidupan. Kali ini aku bukan membahas tentang hidup lagi, tetapi masa lampau. Masa yang sudah terlewati bahkan ada yang sudah tidak lagi ada dalam memori. Entah karena ada yang buruk atau memang tipe yang tidak suka mengenang hingga dengan ringan bisa begitu saja hilang dari ingatkan, masa lalu tidaklah seburuk itu. Dilupakan atau dipaksa terlupakan. Tidak akan ada jalan menuju hari ini kecuali jembatan yang disusun oleh kepingan kenangan masa lalu. Mungkin banyak air mata sehingga ketika sudah bahagia dengan otomatis dia tidak lagi menjadi topik utama. Mungkin ada sakit sehingga ketika sudah menemukan obatnya maka tidak ada antisipasi dengan pengalaman yang pernah dialami. Perlu kita ketahui bahwa masa yang benar-benar ...

This is The Moment

Sudah saatnya aku keluar, sudah waktunya aku melupakan. Sudah seharusnya memang beginilah arah takdirnya. Tidak selamanya yang kita inginkan bisa kita dapatkan. Aku sungguh sangat membenarkan kalimat tersebut. Meski hatiku masih bersangsi, namun sebenarnya sudah pasti dirinya yang aku ingini. Lalu kini Tuhan menunjukkan jawabannya. Bukan iya tetapi tidak. Bersamaku dia selalu terluka, maka sudah saatnya dia bahagia. Tidak dengan cintanya yang lama, tapi dengan lembaran baru kisahnya. Aku pun sadar perbedaan mendasar antara aku dengannya, yang hampir mungkin tidak bisa untuk bersatu, bersama. Sifat yang bertolak belakang, kebiasaan yang bahkan tidak ada sedikitpun kesamaan. Maka sebenarnya penuh perbedaan ditengah kita, eh? Ditengah aku dan dia. Dulu aku memaksakan untuk bersama, kupaksa melakukan apa yang dia lakukan, menyukai apa yang dia sukai, pura-pura memang itulah yang ingin aku lakukan meski bukan dari hati. Semuanya terasa berbeda, mengganjal. Seharusnya aku bisa menjadi diriku...