Langsung ke konten utama

About You and My Silent (Poetry)

Kala sunyi aku berjalan sendiri
Sekelebat bayang secepat kilat seakan menari menghampiri lalu pergi
Sedetik berlalu kudengar suara menginterupsi
Siapa dia? Kanan kiri kutoleh mencari
Lalu sayup-sayup seseorang berjalan kemari
Semakin jelas menapak bumi hingga dapat kukenali
Dia, berjalan tegap kearahku dengan pasti
Mataku menangkap sebuah gerakan melambai dengan senyum lebar ceria wajah berseri
Aku diam tak berkutik barang sedetikpun menanggapi

Kenapa? Ada apa wahai hati?
Rasa ini,
Debaran apa yang sedang mendera jantung tak mau berhenti?
Ketika seharusnya aku membalas sapa tak kalah riang menampakkan deretan gigi,
Mengapa sulit sekali tanganku bergerak bahkan sekedar melambai?
Lidahku kelu, apa yang sebenarnya terjadi?

Detik demi detik waktu berjalan
Menjadi menit, jam, yang mengalun dalam irama kehidupan
Siapakah tahu ketetapan hati dalam iman? 
Derit waktu yang telah mengubah perasaan
Dari kosong menjadi penuh kejutan
Kejutan? 
Ya, hati yang semula terlatih hanya untuk mencintai Tuhan
Kini perlahan terusik oleh sosok pengundang perhatian
Yang selalu terfikirkan di setiap ritme nafas yang masih berjalan

Entah memang seperti itu ataukah sebuah kebetulan
Jantung berdetak bergemuruh setiap dingin dirinya mengarah memperhatikan
Hati kembang kembis menahan segala gejolak yang ia ciptakan
Lalu haruskah bibirku berteriak mengucap satu kata penggambaran perasaan?
Kebodohanlah bila benar kulakukan

Satu hal yang tidak perlu dia tau, bahwa rasaku bukanlah salah
Mencintainya sedalam ini bukanlah sebuah fatamorgana yang dapat berlalu saat lelah
Ketika rasa yang semakin tumbuh terlihat semu, dialah yang sebenarnya sedang berkilah
Karena berjalannya rasa ini tidaklah mudah putar arah
Meski nanti atau selanjutnya ada luka memerah
Biarkan saja apapun yang terjadi dengan hati berdiam meski gundah

Bahkan bukan ragaku yang bertekad, hatilah yang telah menjanjikan
Andai datang angin menggoyahkan, mungkin rasaku tetap kokoh seperti iman
Bilapun datang rindu menggaduhkan, selain diam, apalagi yang bisa kulakukan?
Sedalam rasaku adalah sedalam usahaku menyembunyikan
Meski berkali-kali ketukan ringan seakan memaksa membuka yang telah terencanakan

Katakan aku terlalu berlebihan dalam mencintai
Namun memang inilah, inilah kesulitanku mengatur rasa agar tertata rapi
Dalam harap sesungguhnya ingin biasa saja menyikapi
Namun apalah daya dengan pergerakan yang berbeda antara mata dan hati
Kontrol rasa yang bukan perkara biasa, bisa saja malah menjadi-jadi

Ingin ku akui saja
Bahwa bahagia, setiap mengingat manis senyumnya
Bahwa suka, dengan setiap tingkah lakunya
Bahwa indah, tentang segala sikap gelak tawanya
Tak pernah kupungkiri bahwa kenyamanan yang dibawanya sudah melekat di jiwa
Menciptakan percikan api yang tanpa sengaja semakin membesar seiring tumbuhnya rasa

Sungguh aku tak ingin, tapi apa dayaku menolak yang tiada punya kuasa?
Hati adalah pengendali raga
Tanpa kuminta pun akan bergerak sesuai titahnya
Lalu banyakkah celah bagiku menyembunyikan rasa?
Keyakinanku serta merta mengikis ketika senyum yang selama diamku terbayang jelas tampak nyata didepan netra
Duniaku, akankah kamu berubah sekejap hanya dengan sebuah sapa?

Sungguh indah pahatan Tuhan telah meracuni setiap angan harapku
Duniaku serasa terguncang menyaksikan sendiri gerak geriknya yang lugu
Jangan runtuh, pertahanan yang sudah kubangun lama jangan dulu
Sungguh inilah yang terjadi padaku, setiap dia tak jauh dari gerak ruangku
Rasa hati ingin menghampiri lalu mendekap hangat melupakan rasa malu
Tapi dunia seolah berhenti menyisakan kaki yang serasa kaku
Hingga hanya diam dan diam meski terasa ngilu

Ikhlas, cinta tau kemana dia melangkah dan pergi
Sekuat apapun menahan, jika cinta ingin berlalu maka tak ada apapun yang bisa memungkiri
Aku hanya ingin membiarkan rasa ini mengalur di jalan yang seharusnya dilewati
Dengan sejuta harap dan seribu angan, aku mampu berdiri menyeimbangi
Karena cintaku adalah kekuatanku di kehidupan yang perlu kuhadapi
Disanalah aku bisa merasakan seri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Really I Hope

Tidak ada yang lebih sia-sia melebihi bertahan dalam cinta yang egois. Ketika aku memilih melabuhkan hatiku pada dermaga itu, aku berfikir akan siap menerima segala yang memang harus kuterima. Aku tidak akan ragu dipersimpangan pun berdiri dengan gusar. Tetapi ternyata yang aku angankan adalah masa yang belum terlewatkan. Aku lupa bahwa aku adalah manusia biasa yang tidak tahu ada apa didepan sana. Aku terlalu yakin bahwa jalanku akan lurus tanpa kelokan. Bahkan hidup manusia yang sudah diatur oleh-Nya saja penuh batu dan tak jarang terjal, bagaimana aku seyakin ini bahkan sebelum aku berada ditengah jalan? Sungguh aku tidak tahu apa yang kufikirkan kala itu. Entah karena cintaku atau memang kekuatan yang ada pada sikapnya. Hingga tibalah aku pada keraguan. Keraguan yang sangat melelahkan. Aku sudah bertahan diatas duri-duri kecil meski tak jarang aku terluka karenanya. Tetapi semakin lama aku bertahan semakin tinggi duri-duri itu pun semakin tajam runcingnya. Aku lelah dengan luka taj...

So, How Then?

Kemarin, peluhku adalah tentang meyakinkan diriku bahwa akan ada bahagia setelah hati ini kubuka. Aku berusaha dengan sekuat tenaga untuk percaya bahwa sosokmu tidaklah mengecewakan lagi, aku berusaha menerima apa yang sebenarnya sangat aku benci, dan berusaha bersabar atas segala egois yang masih kamu miliki. Namun kini, peluhku adalah tentang menahan segala rasa agar jangan sampai bermetamorfosis sempurna. Susah payah aku meyakinkan diriku, dan susah payah dirimu menjatuhkan berdirinya kakiku. Ketika semangat aku membukakan pintu menerimamu, pun semangatnya dirimu menggores luka transparan yang hebatnya baru kusadari sekarang. Jangan pernah bertanya bagaimana rasanya. Tidak ada yang akan baik-baik saja dengan hati yang patah. Segala ucapan yang pernah kamu lontarkan bagai balon yang terbang setelah penuh terisi angin. Lalu dengan bodohnya aku tetap berharap bahwa suatu saat balon-balon yang beterbangan belum meletus oleh panasnya mentari. Tolonglah, tolong berjalanlah pada lintasanmu...

TERIMA KASIH AYAH

Ayah. Aku mengawali kalimat dengan topic yang aku bahagia ketiku menyebutnya tetapi sakit ketika menjabarkannya. Aku minta maaf ayah sudah meletakkan luka dalam gelar hebatmu. Aku minta maaf telah mengguyur air mata pada nama besarmu. Aku minta maaf ayah. Putrimu ini adalah seorang pengharap yah. Ya, sebelum ini putrimu sangat berharap besar kepadamu. Tentang keindahan kasih, ketulusan rasa dan kekuatan ikatan. Tetapi ternyata kau baik sekali ayah. Kau mengingatkanku kepada Allah, Tuhanku. Bahwa Allah tidak suka hambanya berharap kepada selain-Nya. Maka terima kasih ayah, engkau sudah menunjukkan hal besar yang aku lupakan. Kau tetaplah ayahku, doa yang setiap saat melangit agar ragamu selalu dalam keadaan baik-baik saja. Meski dengan menyebutmu lukaku semakin merah berdarah, tetapi aku mencintaimu. Aku tetap mencintaimu. Jikapun ceritanya bukan seperti anggapanku selama ini, aku ikhlas ayah. Sekali lagi, kau mengajarkan keikhlasan yang begitu besar didalam jiwa putrimu ini. Kau meniti...