Langsung ke konten utama

So This is About a Logic

Kita sebagai manusia cenderung selalu dekat dengan seseorang, benda, atau suatu hal yang mempunyai kesamaan dengan diri kita meski hanya satu saja, karena memang kita akan selalu merasa bahagia dengan sesuatu yang bisa membuat kita nyaman berada didekatnya, disekitarnya. Kenyamanan selalu didapatkan dari sebuah kesamaan. Sebagai contoh hobi yang sama sepak bola misalnya, maka seseorang akan merasa nyaman hanya dengan satu kesamaan tersebut. Mereka akan sangat ringan bercerita, tertawa, membahas hal seputar sepak bola, merencanakan sesuatu, bahkan melakukan sesuatu. Semuanya terasa seru karena sama-sama menyukai hal serupa. Bayangkan saja jika seseorang yang hobi dengan sepak bola berada diruangan yang sama dengan seseorang yang hobi menari, apa yang terjadi? Apakah penari mengerti semua hal tentang sepak bola begitupun sebaliknya? Belum tentu pemain bola faham juga teknik-teknik menari yang baik dan benar. Maka dari itu, perbedaan tidak selamanya bisa disatukan. Menyatukan perbedaan yang sudah jelas sifatnya ibaratkan menyatukan air dan minyak dalam gelas, sifat yang sangat bertolak belakang tidak akan pernah bisa bersatu. Maka demikian pula urusan hati. Dua orang yang berbeda tidak akan dengan mudah bisa bersatu begitu saja. Tidak ada istilah perbedaan menyatukan kecuali dengan cinta yang besar. Cinta yang benar-benar tulus dan ikhlas menerima apapun konsekuensinya. Itulah cinta. Tidak ada yang sulit sebenarnya, hanya saja memang sangat rumit jika ada suatu perbedaan yang sangat kentara. Tidak selamanya yang sabar akan terus bersabar. Batu akan berlubang jika terus saja tertetes air. Tidak ada siklus yang tetap tanpa ada perubahan. Hidup adalah proses, dan proses selalu membawa perubahan. Sepanjang perjalanan kehidupan seseorang terlalu mustahil jika tidak dihadapkan dengan berbagai batu atau hujan, entah itu berakhir dengan banjir atau pelangi berwarna lengkap. Sama dengan suatu rasa. Tidak ada yang tidak diuji dicoba. Sekuat apapun sebesar apapun suatu rasa, manusia bukan Tuhan yang bisa menetapkan rasa dan menentukan siapa. Perbedaan selalu bisa membawa kesangsian. Tidak ada hati yang tetap teguh dengan segala perbedaan yang bertolak belakang. Perbedaan jika dipaksakan hanya akan meumbuhkan banyak duri, entah akan mengenai diri sendiri atau malah menusuk orang-orang sekitar yang disayangi. Bukan bencana, tapi luka. Berbeda maka berarti tidak jauh dari luka. Adakah yang bisa menjelaskan tentang perbedaan yang indah tanpa cinta? Misalnya hanya menyatukan seorang penari dan pemain sepak bola agar berlatih bersama yang sebelumnya tidak saling mengenal? Maka kita bisa membayangkan bagaimana interaksi yang akan terjadi jika memang tidak ada satu saja persamaan di ruang lingkupnya. Tidak ada yang menarik diperbincangkan, tidak ada yang harus dilakukan bersama, apalagi untuk sebuah ikatan, maka perbedaan tidak akan menyelaraskan tujuan. Lalu bagaimana bisa rasa nyaman tercipta jika suasana saja terasa tidak bernyawa? Mungkin salah satu bisa mengalah atau keduanya mengalah. Tetapi tidak ada yang bisa menjamin seseorang tidak berubah selama dia masih berproses dalam perjalanan hidupnya. Tidak ada yang bisa menjamin semuanya akan tetap berjalan mulus tanpa batu dan belokan. Jadi perbedaan hanya bisa disatukan dengan cinta dan kerinduan yang besar. Maka selalu akan ada jalan dimana dua buah benda yang berbeda akan tetap berbeda meski pernah bersama. Tidak ada bersama untuk berbeda atau berbeda untuk bersama. Yang ada adalah berbeda untuk cinta atau bersama untuk cinta, yang pada akhirnya tetap ada cinta diantara berbeda yang bersama

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Move Up Beeee

Sudah tidak seharusnya ada benci diantara cerita yang pernah terkisah. Kita bukan lagi bocah 7 tahun yang membenci temannya ketika mainannya direbut, atau membenci temannya ketika teman mainnya direbut. Kita sudah setengah jalan melewati bebatuan yang tersusun bernama kehidupan. Kali ini aku bukan membahas tentang hidup lagi, tetapi masa lampau. Masa yang sudah terlewati bahkan ada yang sudah tidak lagi ada dalam memori. Entah karena ada yang buruk atau memang tipe yang tidak suka mengenang hingga dengan ringan bisa begitu saja hilang dari ingatkan, masa lalu tidaklah seburuk itu. Dilupakan atau dipaksa terlupakan. Tidak akan ada jalan menuju hari ini kecuali jembatan yang disusun oleh kepingan kenangan masa lalu. Mungkin banyak air mata sehingga ketika sudah bahagia dengan otomatis dia tidak lagi menjadi topik utama. Mungkin ada sakit sehingga ketika sudah menemukan obatnya maka tidak ada antisipasi dengan pengalaman yang pernah dialami. Perlu kita ketahui bahwa masa yang benar-benar ...

This is The Moment

Sudah saatnya aku keluar, sudah waktunya aku melupakan. Sudah seharusnya memang beginilah arah takdirnya. Tidak selamanya yang kita inginkan bisa kita dapatkan. Aku sungguh sangat membenarkan kalimat tersebut. Meski hatiku masih bersangsi, namun sebenarnya sudah pasti dirinya yang aku ingini. Lalu kini Tuhan menunjukkan jawabannya. Bukan iya tetapi tidak. Bersamaku dia selalu terluka, maka sudah saatnya dia bahagia. Tidak dengan cintanya yang lama, tapi dengan lembaran baru kisahnya. Aku pun sadar perbedaan mendasar antara aku dengannya, yang hampir mungkin tidak bisa untuk bersatu, bersama. Sifat yang bertolak belakang, kebiasaan yang bahkan tidak ada sedikitpun kesamaan. Maka sebenarnya penuh perbedaan ditengah kita, eh? Ditengah aku dan dia. Dulu aku memaksakan untuk bersama, kupaksa melakukan apa yang dia lakukan, menyukai apa yang dia sukai, pura-pura memang itulah yang ingin aku lakukan meski bukan dari hati. Semuanya terasa berbeda, mengganjal. Seharusnya aku bisa menjadi diriku...