Langsung ke konten utama

6 yang ke Selasa

Pada kesekian aku menjadi ratu, tiada yang lebih menggetarkan dari 6 ke Selasa kali ini. Seakan tertampar oleh kenyataan bahwa mereka masih ada didekatku, mendekapku, membisikkan kalimat-kalimat yang teralun merdu. Sebanyak apapun aku merangkai kalimat demi kalimat paragraf demi paragraf dan lembar demi lembar, tetap tidak ada ilustrasi yang mampu melukiskan keindahan selaksa senja ini. Bayang-bayang yang pernah terlintas sebelumnya lenyap entah kemana aku tak ingin mencarinya. aku sudah cukup bahagia dengan banyak bunga yang ternyata setia menungguiku. Aku tidak ingin mengibaratkan mereka dengan bunga yang kapanpun bisa layu, aku akan menyebut mereka dengan udara yang akan selalu menjadi kebutuhanku. Udara yang baru kali ini kusadari selalu membuatku hidup, udara yang selama ini membawa tawa dalam redupku. Syukurku serta merta melangit dalam sepersekian detik tentang udaraku yang tidak pernah hilang meski transparan akan netra. Maafkan aku yang selama ini tidak menyadari akan hadirmu. Maafkan aku yang kurang membuatmu bahagia meski aku sudah diujung usaha. Maafkan aku yang kurang bisa membuatmu nyaman ketika bercanda denganku. Sungguh sama sekali tidak ada unsur kesengajaan yang aku lampirkan ketika alisku bertaut marah. Aku hanya sedang tidak bisa mengendalikan diriku ketika emosi mendominasiku. Oh Allah, terima kasih Engkau telah menghadirkan mereka untukku. Terima kasih Engkau memilih mereka untuk menemani sisa waktuku di hari yang penuh tugas dan lelah. Terima kasih Engkau telah menghadiahkanku senyuman yang sangat indah di 6 yang ke Selasa ini. Aku bahagia. Bahkan teramat sangat bahagia. Adakah pujangga yang baru saja dfimabuk cinta? Maka aku akan lebih bahagia dari dia. Adakah yang baru saja diterima untuk melamar seorang pujaan yang selama bertahun-tahun disukainya? Maka aku lebih bahagia dari dia. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari pertemanan yang bagaikan kinerja sistem organ tubuh. Setetes air mata yang nampak sudah bagaikan sesamudera. Sebersit luka diantaranya sudah bagaikan dada yang dibelah dua. Keadaan inilah yang kelak akan menjadikan rumah bagiku pulang. Salam sayang dari saudara seiman yang kalian sayang:) Terima kasih untuk 6 yang ke Selasa yang sangat sempurna🌝

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Really I Hope

Tidak ada yang lebih sia-sia melebihi bertahan dalam cinta yang egois. Ketika aku memilih melabuhkan hatiku pada dermaga itu, aku berfikir akan siap menerima segala yang memang harus kuterima. Aku tidak akan ragu dipersimpangan pun berdiri dengan gusar. Tetapi ternyata yang aku angankan adalah masa yang belum terlewatkan. Aku lupa bahwa aku adalah manusia biasa yang tidak tahu ada apa didepan sana. Aku terlalu yakin bahwa jalanku akan lurus tanpa kelokan. Bahkan hidup manusia yang sudah diatur oleh-Nya saja penuh batu dan tak jarang terjal, bagaimana aku seyakin ini bahkan sebelum aku berada ditengah jalan? Sungguh aku tidak tahu apa yang kufikirkan kala itu. Entah karena cintaku atau memang kekuatan yang ada pada sikapnya. Hingga tibalah aku pada keraguan. Keraguan yang sangat melelahkan. Aku sudah bertahan diatas duri-duri kecil meski tak jarang aku terluka karenanya. Tetapi semakin lama aku bertahan semakin tinggi duri-duri itu pun semakin tajam runcingnya. Aku lelah dengan luka taj...

So, How Then?

Kemarin, peluhku adalah tentang meyakinkan diriku bahwa akan ada bahagia setelah hati ini kubuka. Aku berusaha dengan sekuat tenaga untuk percaya bahwa sosokmu tidaklah mengecewakan lagi, aku berusaha menerima apa yang sebenarnya sangat aku benci, dan berusaha bersabar atas segala egois yang masih kamu miliki. Namun kini, peluhku adalah tentang menahan segala rasa agar jangan sampai bermetamorfosis sempurna. Susah payah aku meyakinkan diriku, dan susah payah dirimu menjatuhkan berdirinya kakiku. Ketika semangat aku membukakan pintu menerimamu, pun semangatnya dirimu menggores luka transparan yang hebatnya baru kusadari sekarang. Jangan pernah bertanya bagaimana rasanya. Tidak ada yang akan baik-baik saja dengan hati yang patah. Segala ucapan yang pernah kamu lontarkan bagai balon yang terbang setelah penuh terisi angin. Lalu dengan bodohnya aku tetap berharap bahwa suatu saat balon-balon yang beterbangan belum meletus oleh panasnya mentari. Tolonglah, tolong berjalanlah pada lintasanmu...

TERIMA KASIH AYAH

Ayah. Aku mengawali kalimat dengan topic yang aku bahagia ketiku menyebutnya tetapi sakit ketika menjabarkannya. Aku minta maaf ayah sudah meletakkan luka dalam gelar hebatmu. Aku minta maaf telah mengguyur air mata pada nama besarmu. Aku minta maaf ayah. Putrimu ini adalah seorang pengharap yah. Ya, sebelum ini putrimu sangat berharap besar kepadamu. Tentang keindahan kasih, ketulusan rasa dan kekuatan ikatan. Tetapi ternyata kau baik sekali ayah. Kau mengingatkanku kepada Allah, Tuhanku. Bahwa Allah tidak suka hambanya berharap kepada selain-Nya. Maka terima kasih ayah, engkau sudah menunjukkan hal besar yang aku lupakan. Kau tetaplah ayahku, doa yang setiap saat melangit agar ragamu selalu dalam keadaan baik-baik saja. Meski dengan menyebutmu lukaku semakin merah berdarah, tetapi aku mencintaimu. Aku tetap mencintaimu. Jikapun ceritanya bukan seperti anggapanku selama ini, aku ikhlas ayah. Sekali lagi, kau mengajarkan keikhlasan yang begitu besar didalam jiwa putrimu ini. Kau meniti...