Langsung ke konten utama

This is The Moment

Sudah saatnya aku keluar, sudah waktunya aku melupakan. Sudah seharusnya memang beginilah arah takdirnya. Tidak selamanya yang kita inginkan bisa kita dapatkan. Aku sungguh sangat membenarkan kalimat tersebut. Meski hatiku masih bersangsi, namun sebenarnya sudah pasti dirinya yang aku ingini. Lalu kini Tuhan menunjukkan jawabannya. Bukan iya tetapi tidak. Bersamaku dia selalu terluka, maka sudah saatnya dia bahagia. Tidak dengan cintanya yang lama, tapi dengan lembaran baru kisahnya. Aku pun sadar perbedaan mendasar antara aku dengannya, yang hampir mungkin tidak bisa untuk bersatu, bersama. Sifat yang bertolak belakang, kebiasaan yang bahkan tidak ada sedikitpun kesamaan. Maka sebenarnya penuh perbedaan ditengah kita, eh? Ditengah aku dan dia. Dulu aku memaksakan untuk bersama, kupaksa melakukan apa yang dia lakukan, menyukai apa yang dia sukai, pura-pura memang itulah yang ingin aku lakukan meski bukan dari hati. Semuanya terasa berbeda, mengganjal. Seharusnya aku bisa menjadi diriku sendiri agar seseorang memandang itu aku, bukan orang lain. Tetapi tidak ketika aku bersamanya, aku seakan tidak bisa mengenali diriku sendiri. Aku seakan adalah cerminan darinya versi berbeda. Lalu kenapa semua itu kulakukan cuma-cuma? Mungkin karena dialah sosok idaman. Mungkin karena cinta. Mungkin karena nyaman. Dan mungkin karena obsesi ingin memiliki. Saat itu aku sungguh masih tidak mengerti kenapa aku memilih berjalan bersamanya dan menutupi diriku dengan orang yang dia inginkan. Aku tidak terpaksa sebenarnya, karena diapun tidak pernah menginginkan apa-apa dariku, hanya aku sendiri yang menginginkannya. Lalu siapa yang salah? Tidak ada yang perlu dipersalahkan. Kini alam menunjukkan keadilannya. Ketika dua perbedaan yang bahkan hampir tidak ada kesamaan dipaksa bersatu, maka dunia membentangkan tabirnya. Membangun lautan luas antara tanahku berpijak dengannya. Agar kita tidak bersama. Sungguh sakit memang, aku yang terlalu mengharapkan bersanding dengannya, lalu dunia tidak mengizinkan. Sangat sedih memang, tetapi tidak ada alasan bagiku untuk terus berjuang dan bertahan ketika dia sudah menyerah dan memilih untuk mencari rumah lain. Bagaimana aku bisa bertahan jika dia saja sudah balik kanan? Lantas siapa yang aku pertahankan? Aku tidak menyalahkannya yang memilih menyerah dengan bentangan tabir. Tidak ada manusia yang tidak ingin bahagia. Tidak ada manusia yang mau terus bertahan diatas permukaan samudera sedangkan diseberang sana ada sauh yang melepas jangkar. Dia berhak bahagia, dia berhak menentukan pilihannya. Maka aku pun berhak bahagia dan menentukan pilihanku. Jika bukan sekarang, semoga besok. Aku tidak memaksa hatiku untuk tegar melupakan. Karena pada kenyataannya sangat sulit menghapus kenangan. Aku berjanji pada diriku sendiri, melepas namanya terbang diatas awan dan bertemu kebahagiaan. Aku berjanji. Aku berjanji akan tegar suatu saat nanti. Aku berjanji akan tersenyum bahagia atas kebahagiaannya. Aku pun berjanji tidak akan ada lagi air mata. Dan aku berjanji untuk menebas bersih sisa cinta untuk seseorang yang nanti akan menempati hati sebagai raja

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Really I Hope

Tidak ada yang lebih sia-sia melebihi bertahan dalam cinta yang egois. Ketika aku memilih melabuhkan hatiku pada dermaga itu, aku berfikir akan siap menerima segala yang memang harus kuterima. Aku tidak akan ragu dipersimpangan pun berdiri dengan gusar. Tetapi ternyata yang aku angankan adalah masa yang belum terlewatkan. Aku lupa bahwa aku adalah manusia biasa yang tidak tahu ada apa didepan sana. Aku terlalu yakin bahwa jalanku akan lurus tanpa kelokan. Bahkan hidup manusia yang sudah diatur oleh-Nya saja penuh batu dan tak jarang terjal, bagaimana aku seyakin ini bahkan sebelum aku berada ditengah jalan? Sungguh aku tidak tahu apa yang kufikirkan kala itu. Entah karena cintaku atau memang kekuatan yang ada pada sikapnya. Hingga tibalah aku pada keraguan. Keraguan yang sangat melelahkan. Aku sudah bertahan diatas duri-duri kecil meski tak jarang aku terluka karenanya. Tetapi semakin lama aku bertahan semakin tinggi duri-duri itu pun semakin tajam runcingnya. Aku lelah dengan luka taj...

So, How Then?

Kemarin, peluhku adalah tentang meyakinkan diriku bahwa akan ada bahagia setelah hati ini kubuka. Aku berusaha dengan sekuat tenaga untuk percaya bahwa sosokmu tidaklah mengecewakan lagi, aku berusaha menerima apa yang sebenarnya sangat aku benci, dan berusaha bersabar atas segala egois yang masih kamu miliki. Namun kini, peluhku adalah tentang menahan segala rasa agar jangan sampai bermetamorfosis sempurna. Susah payah aku meyakinkan diriku, dan susah payah dirimu menjatuhkan berdirinya kakiku. Ketika semangat aku membukakan pintu menerimamu, pun semangatnya dirimu menggores luka transparan yang hebatnya baru kusadari sekarang. Jangan pernah bertanya bagaimana rasanya. Tidak ada yang akan baik-baik saja dengan hati yang patah. Segala ucapan yang pernah kamu lontarkan bagai balon yang terbang setelah penuh terisi angin. Lalu dengan bodohnya aku tetap berharap bahwa suatu saat balon-balon yang beterbangan belum meletus oleh panasnya mentari. Tolonglah, tolong berjalanlah pada lintasanmu...

TERIMA KASIH AYAH

Ayah. Aku mengawali kalimat dengan topic yang aku bahagia ketiku menyebutnya tetapi sakit ketika menjabarkannya. Aku minta maaf ayah sudah meletakkan luka dalam gelar hebatmu. Aku minta maaf telah mengguyur air mata pada nama besarmu. Aku minta maaf ayah. Putrimu ini adalah seorang pengharap yah. Ya, sebelum ini putrimu sangat berharap besar kepadamu. Tentang keindahan kasih, ketulusan rasa dan kekuatan ikatan. Tetapi ternyata kau baik sekali ayah. Kau mengingatkanku kepada Allah, Tuhanku. Bahwa Allah tidak suka hambanya berharap kepada selain-Nya. Maka terima kasih ayah, engkau sudah menunjukkan hal besar yang aku lupakan. Kau tetaplah ayahku, doa yang setiap saat melangit agar ragamu selalu dalam keadaan baik-baik saja. Meski dengan menyebutmu lukaku semakin merah berdarah, tetapi aku mencintaimu. Aku tetap mencintaimu. Jikapun ceritanya bukan seperti anggapanku selama ini, aku ikhlas ayah. Sekali lagi, kau mengajarkan keikhlasan yang begitu besar didalam jiwa putrimu ini. Kau meniti...