Aku tau aku salah. Sangat salah. Aku mencintai yang seharusnya tidak aku lukai. Karena cintaku adalah luka dikemudian harinya. Andai kamu tau nanti, pastilah karma yang akan kamu doakan untukku. Aku akan berusaha ikhlas jika nanti aku kehilanganmu. Karena jujur, awalnya, jika kamu beranggapan bahwa aku merasakan ada rasa yang berbeda ketika bersamamu yang mana itu membuatmu bahagia, semuanya salah! Itu salah! Aku tak pernah merasakan ada suasana berbeda jika aku berada disekitarmu yang aku yakini bahwa aku memang belum mencintaimu. Hanya saja aku berusaha untuk menghargai perasaan juga perjuanganmu demi mendapatkan ruang dihatiku. Inilah kesalahanku, membiarkanmu masuk jauh kedalam dimensiku dan menetap disana. Yang mana dilain sisi, tahta dihatiku belum bisa menerima kedatanganmu sebagai penduduk sekaligus raja baru di istana surgaku. Bodoh! Aku sungguh bodoh! Harusnya dari awal aku mengatakan sejujurnya tentang rasaku yang belum ada sama sekali untukmu. Tapi mulutku memilih untuk bungkam mengikuti alur kisah yang kita jalani. Entah apa yang menjadi alasannya untuk menutup dirinya rapat-rapat, yang terjelas adalah dia tidak ingin melukai hatinya. Karena satu saja kalimat penjelas yang ia keluarkan nantinya, akibatnya sampai ke wilayah yang bahkan bukan seharusnya ia pijak. Dan kini? Semuanya semakin sulit, semuanya menjadi rumit. Hukum karma datang menciptakan dilema berat yang sangat menumpuk di otakku. Hukum dimana aku yang harus berjuang sendiri menentukan mana jalan terbaik dan mana jalan yang lurus tapi menyesatkan. Yang lebih aku benci dalam situasi ini adalah, disaat hatiku mulai terlatih menerima kehadirannya. Situasi dimana aku yang sudah terbiasa dengan perhatiannya. Sungguh aku terjebak. Aku terjebak dalam permainan yang aku rangkai sendiri. Dulu aku menganggap kalimat "jangan bermain api jika kamu tidak ingin dia membakarmu" hanyalah sebuah lelucon untuk menghibur atau sekedar membuat anak kecil takut. Tapi sekarang, kalimat itu adalah sebuah realita yang merangkai sebuah pengalaman dan pengajaran tentang tumbuhan. Kenapa tumbuhan? Karena kalimat itu menunjukkan arti lain dirinya yaitu apa yang kita tanam adalah apa yang nanti kita petik. Dengan kata lain adalah KARMA
Tidak ada yang lebih sia-sia melebihi bertahan dalam cinta yang egois. Ketika aku memilih melabuhkan hatiku pada dermaga itu, aku berfikir akan siap menerima segala yang memang harus kuterima. Aku tidak akan ragu dipersimpangan pun berdiri dengan gusar. Tetapi ternyata yang aku angankan adalah masa yang belum terlewatkan. Aku lupa bahwa aku adalah manusia biasa yang tidak tahu ada apa didepan sana. Aku terlalu yakin bahwa jalanku akan lurus tanpa kelokan. Bahkan hidup manusia yang sudah diatur oleh-Nya saja penuh batu dan tak jarang terjal, bagaimana aku seyakin ini bahkan sebelum aku berada ditengah jalan? Sungguh aku tidak tahu apa yang kufikirkan kala itu. Entah karena cintaku atau memang kekuatan yang ada pada sikapnya. Hingga tibalah aku pada keraguan. Keraguan yang sangat melelahkan. Aku sudah bertahan diatas duri-duri kecil meski tak jarang aku terluka karenanya. Tetapi semakin lama aku bertahan semakin tinggi duri-duri itu pun semakin tajam runcingnya. Aku lelah dengan luka taj...
Komentar
Posting Komentar