Langsung ke konten utama

Karma?

Aku tau aku salah. Sangat salah. Aku mencintai yang seharusnya tidak aku lukai. Karena cintaku adalah luka dikemudian harinya. Andai kamu tau nanti, pastilah karma yang akan kamu doakan untukku. Aku akan berusaha ikhlas jika nanti aku kehilanganmu. Karena jujur, awalnya, jika kamu beranggapan bahwa aku merasakan ada rasa yang berbeda ketika bersamamu yang mana itu membuatmu bahagia, semuanya salah! Itu salah! Aku tak pernah merasakan ada suasana berbeda jika aku berada disekitarmu yang aku yakini bahwa aku memang belum mencintaimu. Hanya saja aku berusaha untuk menghargai perasaan juga perjuanganmu demi mendapatkan ruang dihatiku. Inilah kesalahanku, membiarkanmu masuk jauh kedalam dimensiku dan menetap disana. Yang mana dilain sisi, tahta dihatiku belum bisa menerima kedatanganmu sebagai penduduk sekaligus raja baru di istana surgaku. Bodoh! Aku sungguh bodoh! Harusnya dari awal aku mengatakan sejujurnya tentang rasaku yang belum ada sama sekali untukmu. Tapi mulutku memilih untuk bungkam mengikuti alur kisah yang kita jalani. Entah apa yang menjadi alasannya untuk menutup dirinya rapat-rapat, yang terjelas adalah dia tidak ingin melukai hatinya. Karena satu saja kalimat penjelas yang ia keluarkan nantinya, akibatnya sampai ke wilayah yang bahkan bukan seharusnya ia pijak. Dan kini? Semuanya semakin sulit, semuanya menjadi rumit. Hukum karma datang menciptakan dilema berat yang sangat menumpuk di otakku. Hukum dimana aku yang harus berjuang sendiri menentukan mana jalan terbaik dan mana jalan yang lurus tapi menyesatkan. Yang lebih aku benci dalam situasi ini adalah, disaat hatiku mulai terlatih menerima kehadirannya. Situasi dimana aku yang sudah terbiasa dengan perhatiannya. Sungguh aku terjebak. Aku terjebak dalam permainan yang aku rangkai sendiri. Dulu aku menganggap kalimat "jangan bermain api jika kamu tidak ingin dia membakarmu" hanyalah sebuah lelucon untuk menghibur atau sekedar membuat anak kecil takut. Tapi sekarang, kalimat itu adalah sebuah realita yang merangkai sebuah pengalaman dan pengajaran tentang tumbuhan. Kenapa tumbuhan? Karena kalimat itu menunjukkan arti lain dirinya yaitu apa yang kita tanam adalah apa yang nanti kita petik. Dengan kata lain adalah KARMA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Move Up Beeee

Sudah tidak seharusnya ada benci diantara cerita yang pernah terkisah. Kita bukan lagi bocah 7 tahun yang membenci temannya ketika mainannya direbut, atau membenci temannya ketika teman mainnya direbut. Kita sudah setengah jalan melewati bebatuan yang tersusun bernama kehidupan. Kali ini aku bukan membahas tentang hidup lagi, tetapi masa lampau. Masa yang sudah terlewati bahkan ada yang sudah tidak lagi ada dalam memori. Entah karena ada yang buruk atau memang tipe yang tidak suka mengenang hingga dengan ringan bisa begitu saja hilang dari ingatkan, masa lalu tidaklah seburuk itu. Dilupakan atau dipaksa terlupakan. Tidak akan ada jalan menuju hari ini kecuali jembatan yang disusun oleh kepingan kenangan masa lalu. Mungkin banyak air mata sehingga ketika sudah bahagia dengan otomatis dia tidak lagi menjadi topik utama. Mungkin ada sakit sehingga ketika sudah menemukan obatnya maka tidak ada antisipasi dengan pengalaman yang pernah dialami. Perlu kita ketahui bahwa masa yang benar-benar ...

This is The Moment

Sudah saatnya aku keluar, sudah waktunya aku melupakan. Sudah seharusnya memang beginilah arah takdirnya. Tidak selamanya yang kita inginkan bisa kita dapatkan. Aku sungguh sangat membenarkan kalimat tersebut. Meski hatiku masih bersangsi, namun sebenarnya sudah pasti dirinya yang aku ingini. Lalu kini Tuhan menunjukkan jawabannya. Bukan iya tetapi tidak. Bersamaku dia selalu terluka, maka sudah saatnya dia bahagia. Tidak dengan cintanya yang lama, tapi dengan lembaran baru kisahnya. Aku pun sadar perbedaan mendasar antara aku dengannya, yang hampir mungkin tidak bisa untuk bersatu, bersama. Sifat yang bertolak belakang, kebiasaan yang bahkan tidak ada sedikitpun kesamaan. Maka sebenarnya penuh perbedaan ditengah kita, eh? Ditengah aku dan dia. Dulu aku memaksakan untuk bersama, kupaksa melakukan apa yang dia lakukan, menyukai apa yang dia sukai, pura-pura memang itulah yang ingin aku lakukan meski bukan dari hati. Semuanya terasa berbeda, mengganjal. Seharusnya aku bisa menjadi diriku...