Langsung ke konten utama

Please, I'll Save You

Aku mengerti bagaimana dirimu. Aku paham sebatu apa jalanmu. Dan aku lebih dari tahu gaya hidupmu. Disini aku berusaha untuk tidak mempedulikan semua itu. Aku berusaha memperbaiki jalanmu, melengkapi segala kekuranganmu, tersenyum menguatkanmu, dan segala hal tentang menerimamu. Aku sedang ingin memberikanmu ruang untukmu berjuang, aku sedang ingin memberikanmu pintu agar kau buka. Bukan aku tidak mau menyepadankan segala apa yang kamu usahakan, tetapi memang kaki sulit sekali untuk bertahan. Aku sama sekali tidak mengerti mengapa aku berada pada fase ini. Tidak juga sedikitpun terlintas bahwa sosokmulah yang datang memperjuangkan. Meski banyak alasan tentang ketidakmungkinan didalam kisah kita, tetapi aku yakin tentang definisi cinta. Bagaimana kuatnya sebuah kata menjalinkan ikatan tak terlepaskan, bagaimana kokohnya kaki berlari menembus asa yang hampir pergi. Aku yakin dengan segala kekuatan yang kita miliki, dunia akan lelah menghakimi. Saat ini aku hanya meminta satu hal kepadamu dari segala halku, tolong jangan patahkan keyakinanku lalu mematahkan harapanku. Karena kamu tidak pernah tahu bagaimana jatuh bangunnya aku mendirikan keyakinan ini tanpa bantuanmu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Move Up Beeee

Sudah tidak seharusnya ada benci diantara cerita yang pernah terkisah. Kita bukan lagi bocah 7 tahun yang membenci temannya ketika mainannya direbut, atau membenci temannya ketika teman mainnya direbut. Kita sudah setengah jalan melewati bebatuan yang tersusun bernama kehidupan. Kali ini aku bukan membahas tentang hidup lagi, tetapi masa lampau. Masa yang sudah terlewati bahkan ada yang sudah tidak lagi ada dalam memori. Entah karena ada yang buruk atau memang tipe yang tidak suka mengenang hingga dengan ringan bisa begitu saja hilang dari ingatkan, masa lalu tidaklah seburuk itu. Dilupakan atau dipaksa terlupakan. Tidak akan ada jalan menuju hari ini kecuali jembatan yang disusun oleh kepingan kenangan masa lalu. Mungkin banyak air mata sehingga ketika sudah bahagia dengan otomatis dia tidak lagi menjadi topik utama. Mungkin ada sakit sehingga ketika sudah menemukan obatnya maka tidak ada antisipasi dengan pengalaman yang pernah dialami. Perlu kita ketahui bahwa masa yang benar-benar ...

This is The Moment

Sudah saatnya aku keluar, sudah waktunya aku melupakan. Sudah seharusnya memang beginilah arah takdirnya. Tidak selamanya yang kita inginkan bisa kita dapatkan. Aku sungguh sangat membenarkan kalimat tersebut. Meski hatiku masih bersangsi, namun sebenarnya sudah pasti dirinya yang aku ingini. Lalu kini Tuhan menunjukkan jawabannya. Bukan iya tetapi tidak. Bersamaku dia selalu terluka, maka sudah saatnya dia bahagia. Tidak dengan cintanya yang lama, tapi dengan lembaran baru kisahnya. Aku pun sadar perbedaan mendasar antara aku dengannya, yang hampir mungkin tidak bisa untuk bersatu, bersama. Sifat yang bertolak belakang, kebiasaan yang bahkan tidak ada sedikitpun kesamaan. Maka sebenarnya penuh perbedaan ditengah kita, eh? Ditengah aku dan dia. Dulu aku memaksakan untuk bersama, kupaksa melakukan apa yang dia lakukan, menyukai apa yang dia sukai, pura-pura memang itulah yang ingin aku lakukan meski bukan dari hati. Semuanya terasa berbeda, mengganjal. Seharusnya aku bisa menjadi diriku...