Kemarin, peluhku adalah tentang meyakinkan diriku bahwa akan ada bahagia setelah hati ini kubuka. Aku berusaha dengan sekuat tenaga untuk percaya bahwa sosokmu tidaklah mengecewakan lagi, aku berusaha menerima apa yang sebenarnya sangat aku benci, dan berusaha bersabar atas segala egois yang masih kamu miliki. Namun kini, peluhku adalah tentang menahan segala rasa agar jangan sampai bermetamorfosis sempurna. Susah payah aku meyakinkan diriku, dan susah payah dirimu menjatuhkan berdirinya kakiku. Ketika semangat aku membukakan pintu menerimamu, pun semangatnya dirimu menggores luka transparan yang hebatnya baru kusadari sekarang. Jangan pernah bertanya bagaimana rasanya. Tidak ada yang akan baik-baik saja dengan hati yang patah. Segala ucapan yang pernah kamu lontarkan bagai balon yang terbang setelah penuh terisi angin. Lalu dengan bodohnya aku tetap berharap bahwa suatu saat balon-balon yang beterbangan belum meletus oleh panasnya mentari. Tolonglah, tolong berjalanlah pada lintasanmu sendiri, jangan lekas melangkah mensejajariku lalu sepersekian detik kamu berlari hilang dari pandangan, tanpa bisa aku mengejar dan mengucapkan selamat tinggal. Datangmu adalah alam yang merencana, tetapi apakah pergimu pun alam yang sedang bercanda? Aku sungguh benci lelucon ini tolong hentikan. Sudah cukup aku yang patah oleh sebuah canda, dan itu canda tentang sikap pun rasa yang kamu hadirkan. Jika ingin datang, datanglah dengan sapa, lalu jika ingin pergi, pergilah dengan biasa saja, maka aku tidak akan seterluka ini. Sesungguhnya, datangmu adalah harapku menyembuhkan luka yang telah lalu. Tapi faktanya, pergimu menghadirkan luka baru untukku yang sialnya tidak kusadari dulu
Assalamu’alaikum Hai, salam kenal aku Salsa. Tulisan ini dibuat pada hari Selasa, 29 Juni 2021 tepatnya pukul 00.37 dini hari. Aku ingin sedikit bercerita tentang sosok hero terhebat yang pastinya sudah membuatku jatuh cinta sejak pertama kali indera penglihatanku menyapa alam. Mungkin dulu dialah sosok yang pertama kali tersenyum haru, bangga dan bahagia menyambut tangisanku yang nakal. Kalian tahu? Mungkin dulu Salsa kecil memanggil-manggil kedua malaikat yang akan selalu melindungi dan menyayanginya selama dia hidup, berupa tangisan yang memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya. Mengikarkan janji bahwa Salsa akan selalu menyayangi kedua malaikatnya selama dia pun masih hidup. Mungkin dulu sosok tangan kekar penuh keringat yang selalu menggendong dengan bangga putri kecilnya, lalu malaikat bermata teduh dan bermandikan peluh mencium lembut seraya berbisik “selamat dating nak, ini keluargamu, tempatmu pulang. Ayah dan Ibu akan selalu menjagamu”. Mereka selalu memberikan kasih sa...
Komentar
Posting Komentar