Langsung ke konten utama

So, How Then?

Kemarin, peluhku adalah tentang meyakinkan diriku bahwa akan ada bahagia setelah hati ini kubuka. Aku berusaha dengan sekuat tenaga untuk percaya bahwa sosokmu tidaklah mengecewakan lagi, aku berusaha menerima apa yang sebenarnya sangat aku benci, dan berusaha bersabar atas segala egois yang masih kamu miliki. Namun kini, peluhku adalah tentang menahan segala rasa agar jangan sampai bermetamorfosis sempurna. Susah payah aku meyakinkan diriku, dan susah payah dirimu menjatuhkan berdirinya kakiku. Ketika semangat aku membukakan pintu menerimamu, pun semangatnya dirimu menggores luka transparan yang hebatnya baru kusadari sekarang. Jangan pernah bertanya bagaimana rasanya. Tidak ada yang akan baik-baik saja dengan hati yang patah. Segala ucapan yang pernah kamu lontarkan bagai balon yang terbang setelah penuh terisi angin. Lalu dengan bodohnya aku tetap berharap bahwa suatu saat balon-balon yang beterbangan belum meletus oleh panasnya mentari. Tolonglah, tolong berjalanlah pada lintasanmu sendiri, jangan lekas melangkah mensejajariku lalu sepersekian detik kamu berlari hilang dari pandangan, tanpa bisa aku mengejar dan mengucapkan selamat tinggal. Datangmu adalah alam yang merencana, tetapi apakah pergimu pun alam yang sedang bercanda? Aku sungguh benci lelucon ini tolong hentikan. Sudah cukup aku yang patah oleh sebuah canda, dan itu canda tentang sikap pun rasa yang kamu hadirkan. Jika ingin datang, datanglah dengan sapa, lalu jika ingin pergi, pergilah dengan biasa saja, maka aku tidak akan seterluka ini. Sesungguhnya, datangmu adalah harapku menyembuhkan luka yang telah lalu. Tapi faktanya, pergimu menghadirkan luka baru untukku yang sialnya tidak kusadari dulu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Move Up Beeee

Sudah tidak seharusnya ada benci diantara cerita yang pernah terkisah. Kita bukan lagi bocah 7 tahun yang membenci temannya ketika mainannya direbut, atau membenci temannya ketika teman mainnya direbut. Kita sudah setengah jalan melewati bebatuan yang tersusun bernama kehidupan. Kali ini aku bukan membahas tentang hidup lagi, tetapi masa lampau. Masa yang sudah terlewati bahkan ada yang sudah tidak lagi ada dalam memori. Entah karena ada yang buruk atau memang tipe yang tidak suka mengenang hingga dengan ringan bisa begitu saja hilang dari ingatkan, masa lalu tidaklah seburuk itu. Dilupakan atau dipaksa terlupakan. Tidak akan ada jalan menuju hari ini kecuali jembatan yang disusun oleh kepingan kenangan masa lalu. Mungkin banyak air mata sehingga ketika sudah bahagia dengan otomatis dia tidak lagi menjadi topik utama. Mungkin ada sakit sehingga ketika sudah menemukan obatnya maka tidak ada antisipasi dengan pengalaman yang pernah dialami. Perlu kita ketahui bahwa masa yang benar-benar ...

This is The Moment

Sudah saatnya aku keluar, sudah waktunya aku melupakan. Sudah seharusnya memang beginilah arah takdirnya. Tidak selamanya yang kita inginkan bisa kita dapatkan. Aku sungguh sangat membenarkan kalimat tersebut. Meski hatiku masih bersangsi, namun sebenarnya sudah pasti dirinya yang aku ingini. Lalu kini Tuhan menunjukkan jawabannya. Bukan iya tetapi tidak. Bersamaku dia selalu terluka, maka sudah saatnya dia bahagia. Tidak dengan cintanya yang lama, tapi dengan lembaran baru kisahnya. Aku pun sadar perbedaan mendasar antara aku dengannya, yang hampir mungkin tidak bisa untuk bersatu, bersama. Sifat yang bertolak belakang, kebiasaan yang bahkan tidak ada sedikitpun kesamaan. Maka sebenarnya penuh perbedaan ditengah kita, eh? Ditengah aku dan dia. Dulu aku memaksakan untuk bersama, kupaksa melakukan apa yang dia lakukan, menyukai apa yang dia sukai, pura-pura memang itulah yang ingin aku lakukan meski bukan dari hati. Semuanya terasa berbeda, mengganjal. Seharusnya aku bisa menjadi diriku...