Layaknya karang yang selalu diterpa ombak. Dari ombak kecil bahkan badai hingga amukan laut yang semula tenang. Seperti itulah perumpamaan raga manusia. Dia bisa rapuh, dia bisa hancur, dia bisa kehilangan asanya. Ketika seluruh dunia berlomba-lomba menjadi yang terkuat untuk menyakitinya. Manusia bukan karang yang meskipun dia sudah hancur tetapi tetap mampu menjadi karang yang sama setelahnya. Tidak apa-apa menyerah sebentar, tidak apa-apa ingin berhenti sebentar, manusiawi. Manusia punya rasa lelah yang amat sangat hingga mampu memporak porandakan tujuan hidupya. Mampu melupakan penciptanya dan mampu merajut fikiran bahwa mati adalah yang terbaik daripada hidupnya. Tertekan, tersiksa, terhimpit didalam batin lebih menyakitkan daripada sakit fisik yang mampu menghilangkan kesadaran manusia. Karena batin yang terlalu lelah disabit parang, bukan hanya mampu menghilangkan kedasaran, tetapi juga mampu menghilangkan nyawa. Bahkan oleh orang-orang yang ternyata adalah orang yang disayangi, tempat yang sangat aman untuk berlindung, dan sandaran yang paling hangat untuk kuat atau terluka oleh yang seharusnya tidak berpotensi melukai. Ada lagi? Manusia itu sangat lemah, apalagi manusia yang penuh dosa seperti saya ini. Manusia yang imannya naik turun. Manusia yang sangat gampang terbujuk syaiton. Manusia yang ingin menjadi lebih baik. Manusia yang sebisa mungkin kuat oleh angin yang kadang ketika sudah berhasil mencapai finish harus dilempar jauh lagi kebelakang hingga harus tertatih untuk sampai kedepan lagi. Tetapi manusia itu mampu. Hanya saja mungkin terlalu lelah. Dan terlalu lemah.
Hidup memang seperti ini, kadang otak mampu meredam emosi. Tetapi kaki yang terlanjur rapuh mengobati lukanya kadang memilih untuk berhenti, istirahat hingga tidak mengerti kapan akan bangkit lagi. Sehari dua hari saja tidak cukup memang. Bahkan darahnya saja belum kering. Jadi, beruntunglah kalian yang masih kuat berjalan meski jari kaki tinggal satu buah saja. Beruntunglah kalian yang rumahnya selalu ramai kehangatan. Beruntunglah kalian yang mampu mengisi ulang kekuatan oleh hitungan detik jarum jam. Untuk kalian yang masih mampu bertahan, jangan menyerah. Bertahanlah, sedikit lagi dan seterusnya ucapkan pada diri kalian sendiri. Diluar sana banyak yang sebenarnya mampu bertahan tetapi memilih berhenti. Dan untuk kalian yang sudah terlalu lelah untuk mengayuh langkah, istirahatlah. Sesuai dengan waktu yang kalian butuhkan. Miliki iman walau sebutir pasir, maka dalam istirahatmu akan sedikit tenang dan tidak akan menemukan jurang.
Salam hangat dari penulis, ayo istirahat dengan santun
Assalamu’alaikum Hai, salam kenal aku Salsa. Tulisan ini dibuat pada hari Selasa, 29 Juni 2021 tepatnya pukul 00.37 dini hari. Aku ingin sedikit bercerita tentang sosok hero terhebat yang pastinya sudah membuatku jatuh cinta sejak pertama kali indera penglihatanku menyapa alam. Mungkin dulu dialah sosok yang pertama kali tersenyum haru, bangga dan bahagia menyambut tangisanku yang nakal. Kalian tahu? Mungkin dulu Salsa kecil memanggil-manggil kedua malaikat yang akan selalu melindungi dan menyayanginya selama dia hidup, berupa tangisan yang memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya. Mengikarkan janji bahwa Salsa akan selalu menyayangi kedua malaikatnya selama dia pun masih hidup. Mungkin dulu sosok tangan kekar penuh keringat yang selalu menggendong dengan bangga putri kecilnya, lalu malaikat bermata teduh dan bermandikan peluh mencium lembut seraya berbisik “selamat dating nak, ini keluargamu, tempatmu pulang. Ayah dan Ibu akan selalu menjagamu”. Mereka selalu memberikan kasih sa...
Komentar
Posting Komentar